Kuitansi sering dianggap sepele. Padahal, dokumen kecil ini bisa menjadi bukti pembayaran yang sah dan sangat penting dalam urusan keuangan, pajak, audit, hingga sengketa hukum.
Kesalahan kecil—seperti penulisan nominal atau terbilang—bisa membuat kuitansi dipertanyakan keabsahannya.
Artikel ini membahas cara menulis kuitansi yang benar, sesuai kaidah bahasa dan praktik umum, lengkap dengan contoh yang tepat agar kuitansi yang kamu buat sah, rapi, dan profesional.
Apa Itu Kuitansi?
Kuitansi adalah dokumen tertulis yang menyatakan bahwa suatu pembayaran telah diterima oleh pihak tertentu dari pihak lain.
Menurut KBBI, penulisan yang baku adalah kuitansi, bukan kwitansi.
Dalam dokumen resmi, gunakan selalu kata “KUITANSI”
Fungsi Kuitansi
Kuitansi berfungsi sebagai:
- Bukti pembayaran yang sah
- Arsip keuangan pribadi atau usaha
- Dokumen pendukung laporan pajak
- Alat bukti jika terjadi sengketa
Karena fungsinya penting, penulisannya tidak boleh asal.
Unsur Wajib dalam Kuitansi yang Sah
Agar kuitansi dianggap sah dan jelas, pastikan memuat unsur berikut:
- Judul KUITANSI
- Nomor kuitansi
- Nama pihak yang menerima uang
- Nama pihak yang membayar
- Nominal angka (Rp)
- Nominal terbilang
- Keterangan pembayaran
- Tempat dan tanggal
- Tanda tangan penerima
- Materai (jika diperlukan)
Cara Menulis Nominal Uang yang Benar
Penulisan nominal angka sebaiknya jelas dan tidak menimbulkan tafsir ganda.
Contoh penulisan yang benar:
- Rp1.500.000
- 1.500.000 (jika sudah ada keterangan rupiah)
Contoh yang tidak dianjurkan:
- Rp 1,5 jt
- 1.500.000,- (tidak wajib dan kurang rapi)
Tujuannya adalah menghindari kebingungan dan manipulasi angka.
Penulisan Terbilang: Ini yang Sering Salah
Bagian terbilang adalah yang paling sering bikin debat.
Masalahnya bukan benar atau salah, tapi beda konteks.
Terbilang punya DUA aturan tergantung penggunaannya.
A. Terbilang dalam Kalimat (Sesuai PUEBI)
Menurut PUEBI, terbilang yang berada di dalam kalimat paragraf ditulis dengan huruf kecil (sentence case) karena bukan nama diri.
Contoh benar:
…telah diterima sejumlah satu juta lima ratus ribu rupiah.
Contoh tidak sesuai kaidah:
- Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah
- Satu juta Lima Ratus Ribu
B. Terbilang pada Kuitansi (Format Dokumen Resmi)
Pada kuitansi, bagian terbilang bukan kalimat, melainkan elemen administratif dokumen.
Karena itu, penulisannya lazim menggunakan Title Case agar terlihat jelas, rapi, dan profesional.
Contoh penulisan pada kuitansi:
Uang sejumlah: Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah
Penulisan ini tidak melanggar PUEBI, karena PUEBI mengatur bahasa dalam kalimat, sedangkan kuitansi mengikuti konvensi dokumen resmi.
Ringkasnya:
- Terbilang di paragraf → huruf kecil
- Terbilang di kuitansi → Title Case
Contoh Format Kuitansi yang Benar
KUITANSI
Nomor: 001/KTS/IX/2025
Telah terima dari: Andi Pratama
Uang sejumlah: Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah
Untuk pembayaran: Jasa desain logo
Jumlah: Rp1.500.000
Jakarta, 12 September 2025
Penerima,
(tanda tangan)
Budi Santoso

Perlukah Kuitansi Bermaterai?
Materai tidak selalu wajib, tetapi diperlukan jika:
- Nilai transaksi ≥ Rp5.000.000
- Digunakan sebagai alat bukti hukum
- Diminta secara administratif
Materai ditempel dan ditandatangani di atas materai, bukan di samping.
Baca Juga: Kalau Angka dan Terbilang Berbeda di Dokumen Resmi, Mana yang Berlaku?
Kesalahan Umum dalam Penulisan Kuitansi
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
- Menulis kwitansi bukan kuitansi
- Terbilang tidak sesuai konteks
- Nominal angka dan terbilang tidak sama
- Tidak mencantumkan tanggal
- Tidak ada tanda tangan
Kesalahan kecil bisa berdampak besar.
Tips Agar Kuitansi Aman & Profesional
- Gunakan bahasa baku
- Samakan angka dan terbilang
- Gunakan format konsisten
- Simpan arsip digital (scan/foto)
- Hindari coretan
Penutup
Menulis kuitansi yang benar bukan soal ribet, tapi soal teliti dan paham konteks.
Dengan memahami perbedaan penulisan dalam kalimat dan dalam dokumen, kamu bisa membuat kuitansi yang benar secara bahasa, sah secara administrasi, dan aman secara hukum.
Coba Juga: Kalkulator Terbilang Online





